Rabu, 05 Januari 2011

Apa Artinya Menjadi Mandiri?

Mandiri selain menjadi nama bank terkemuka, juga menjadi slogan calon-calon presiden. Tetapi seakan-akan bagi saya mandiri hanya menjadi sebuah kata tanpa arti, karena tidak ada satu calon pun yang mampu mendefinisikan apa arti mandiri itu. Maksud saya, tidak ada yang mampu secara benar mendefinisikan apa arti mandiri itu. Apa sih mandiri? Apakah mandiri hanya sekedar berarti mandi sendiri?

Sebuah bangsa yang mandiri katanya, adalah bangsa yang mampu menghasilkan barangnya sendiri, tidak didikte bangsa lain, dan lain sebagainnya. Bukan untuk kritis, tetapi saya anggap ini adalah cara pandang kemandirian yang terlalu sempit, terlalu naïve. Saya beri contoh, seorang yang ingin mandiri dalam cara pandang sempit ini. Dia ingin menjadi mandiri sehingga ketika membagun rumah, dia sendiri yang membangunnya, dia menganggap bahwa meminta bantuan orang lain adalah jalan menuju ketidak mandirian. Ketika dia butuh makanan, dia merasa bahwa untuk menjadi pribadi yang mandiri dia harus bisa mencari dan memproduksi makanannya sendiri. Dia tidak mau berhutang karena berarti dia akan didikte orang lain, itu adalah ciri ketidak mandirian. Dia tidak mau membeli pakaian dan cepatu dari orang lain, itu tidak mandiri. Inilah contoh ketika kemandirian itu dilihat secara naïf, secara sempit. Bukannya menuju kesejahteraan malah menuntun kepada kehancuran diri sendiri. Ini adalah kemandirian sempit dan salah yang menciptakan kemelaratan.

Mungkin anda menganggap contoh saya terlalu sempit pula, contoh yang terlalu naif pula, tidak realistis. Ok., Saya akan tunjukan satu contoh nyata yang lebih luas. Sebuah bangsa yang katanya ingin menjadi mandiri, sehingga merasa diri mampu menciptakan segala hal dengan dirinya sendiri untuk rakyatnya. Dengan bangga mengaku bahwa mereka bisa membangun bandara sendiri. Katanya mereka membangun bandara tersebut tanpa campur tangan asing. Ini adalah suatu pernyataan paling naïf yang pernah saya dengar. Sebagaimana tulisan Leonard E. Read (
http://mahacorp.blog.friendster.com/2009/06/aku-pensil-silsilah-keluarga-sebuah-pensil-sebagaimana-dikisahkan-oleh-leonard-e-read/) yang menantang semua orang bahwa tidak ada satu orang pun bisa menciptakan pensil.

Sekarang saya ingin menantang siapa pun, siapapun dia, bahwa tidak ada satu bangsa pun yang bisa menciptakan sendiri suatu bandara berkualitas, bahkan sebuah bangsa paling maju didunia sekalipun,apapun bangsa itu. Kalau anda memaksa bahwa Indonesia bisa membangun bandara tanpa campur tangan asing, saya ingin bertanya, dari mana datangnya bahan membuat Bandara tersebut? Semennya datang dari Indonesia, tetapi mesin pembuatnya apakah 100% datang dari Indonesia? Kursi plastic di bandara tersebut? Apakah bukan didatangkan dari China? Konstruksi baja datang dari Indonesia, begitu juga dengan biji besinya, tetapi apakah dana pembangunan pabrik baja tersebut 100% datang dari Indonesia?

Sebagaimana Pensil adalah sebuah produk kerjasama jutaan manusia, maka sebuah bandara adalah sebuah hasil buah karya puluhan bangsa didunia yang bekerja sama, bukan untuk kesejahteraan bangsa pemilik bandara, tetapi demi kesejahteraan bangsa masing-masing bangsa tetapi dengan demikian menciptakan pula kesejahteraan bagi bangsa lain. Pengakuan bahwa sebuah bangsa dengan mandiri bisa menciptakan sebuah bandara tanpa campur tangan asing adalah sebuah contoh kemandirian yang kebablasan, sempit dan tanpa dasar.

Ijinkan saya memberikan konsepsi saya tentang bangsa yang mandiri dan saya harap anda bisa sepikiran dengan saya. Sekarang sebelum kita melangkah lebih jauh, mari kita lihat lebih dekat apa sebuah bangsa itu. Bangsa adalah sekumpulan manusia yang saling berbagi kesamaan. Jadi bangsa adalah sekumpulan manusia. Manusia adalah bangsa, tanpa manusia-manusia ini, bangsa tidak akan pernah terbentuk. Sehingga bangsa yang mandiri adalah ketika manusia-manusia secara pribadi mampu mandiri. Tidak ada sebuah bangsa yang bisa kolektif mandiri jika manusia-manusianya terjajah untuk kemandirian kolektif tersebut. Kemandirian suatu bangsa terwujud, jika manusia-manusia yang menjadi anggota bangsa tersebut adalah orang-orang yang mandiri. Lalu apa itu seorang manusia yang mandiri? Tentu saja bukan seperti kemandirian sempit yang saya contohkan diatas.

Seorang manusia yang mandiri adalah seorang yang bisa memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa harus bergantung kepada orang lain. Seorang manusia yang mandiri adalah seorang yang mampu membeli apapun yang dia mau dan butuhkan tanpa harus meminta bantuan dan mengemis kepada siapapun, termasuk kepada pemerintah. Seorang manusia mandiri adalah seorang manusia yang berani BERHUTANG karena dia tahu bahwa dia punya kemampuan untuk membayarnya kembali secara jujur. Seorang manusia yang mandiri adalah seorang yang mampu memenuhi kesejahteraan dasarnya tanpa harus berharap banyak terhadap subsidi pemerintah sampai harus merengek terhadap subsidi tersebut. Seorang manusia yang mandiri adalah seorang yang sanggup membuka usaha tanpa harus takut bersaing secara adil dengan orang lain bahkan pesaing dari bangsa lain, tanpa takut bersaing dalam persaingan bebas yang adil sehingga tidak perlu meminta pemerintah untuk melindungi usahanya. Seorang manusia yang mandiri adalah seorang yang bisa mempertahankan kebebasannya tanpa harus mengganggu kebebasan orang lain, yang bisa menjalankan agamnya tanpa bisa diganggu orang lain. Seorang manusia yang mandiri adalah manusia yang sanggup memenuhi biaya pendidikannya tanpa harus berharap banyak terhadap subsidi pendidikan, sehingga dia mampu membuktikan kepintarannya dan mendapatkan bantuan berupa beasiswa atau bantuan lain atas dasar karena kemampuannya. Ketika para manusia-manusia yang punya mental kemandirian diatas bersatu, maka terwujudlah suatu bangsa yang mandiri.

Sehingga jelas, seorang calon pemimpin yang menjanjikan bahwa dia akan melindungi pengusaha domestic, adalah seorang calon yang membunuh kemandirian pengusaha kita untuk bersaing. Seorang pemimpin yang menjanjikan bahwa dia akan membantu petani dan nelayan, adalah petani yang membunuh kemandirian petani dan nelayan tersebut untuk berusaha lebih keras. Seorang pemimpin yang menjanjikan kesejahteraan lewat subsidi gratis di berbagai bidang, adalah pemimpin yang membunuh kemandirian bangsa. Seorang pemimpin yang menjanjikan banyak kemudahan tanpa banyak kerja keras, adalah pemimpin yang menghancurkan mental mandiri manusia-manusia dan menghasilkan bangsa memble, bangsa yang tidak bisa mandiri.

Ingat, seorang pemilih yang mandiri adalah seorang pemilih program nyata yang mengarah kepada pembangunan, bukan yang memilih karena janji angin surga, bukan memilih karena dijanjikan usahanya dilindungi oleh calon tersebut, atau yang paling hina, bukan memilih karena diberikan sejumlah uang. Siapapun yang anda pilih, calon presiden ataupun calon legislative, atau calon kepala daerah, akan menentukan apakah anda seorang manusia mandiri yang siap membentuk bangsa yang mandiri.*(Juan Mahaganti)

MITOS LIBERALISME

Mitos : Liberalisme adalah paham yang tidak bermoral. Banyak orang menuduh liberalisme/kapitalisme menuntun kepada imoralitas, pada keserakahan, ketidak adilan, kejahatan, kemaksiatan, dan banyak hal jahat lainnya. Bahkan seorang murid saya pernah memakai sebuah kaos dengan tulisan “capitalism stole my virginity”.

Fakta : Moral adalah kemampuan kita dalam hal membedakan mana yang benar, mana yang salah. Mana yang baik dan mana yang jahat. Perlu diketahui bahwa moral jauh lebih besar dan murni dari adat. Beberapa adat istiadat bisa saja tidak bermoral, tetapi semua yang benar berasal murni dari dalam akal sehat dan nurani kita, yang tidak bisa kita bohongi. Itu adalah anugerah pencipta bagi kita semua. Manusia adalah satu-satunya makhluk dengan nilai moral. Anjing tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat.

Secara moral, liberalisme lebih unggul dari faham sekuler apapun. Banyak pakar ekonomisalah dengan membela kapitalisme karena kapitalisme menciptakan kesejahteraan, tetapi kadang-kadang mengakui bahwa kapitalisme menciptakan kejahatan, sehingga dianggap, kapitalisme adalah “necessary evil” (kejahatan yang diperlukan) untuk menciptakan kesejahteraan. Pandangan yang salah ini tentu saja memperburuk citra liberalisme. Liberalisme menurut Walter Williams, sebenarnya bukan seharusnya dibela dari segi argument ekonomi, tetapi lebih dari sisi moralitas, karena liberalism adalah faham dengan yang paling superior dari sisi moralitas. Sehingga, walaupun liberalisme gagal dalam mengelola ekonomi, tetapi secara moral, liberalism tidak terbantahkan. Sehingga, liberalisme harus dipertahankan dengan argument yang jauh melebihi sekedar argument bahwa liberalisme baik untuk ekonomi, tetapi juga baik untuk kemanusiaan secara universal.

Liberalisme didasarkan kepada hak individu atas anugerah pencipta yang tidak bisa diambil oleh siapapun. Liberalisme menciptakan kebahagiaan bagi siapapun, selama kebahagiaan tersebut tidak mengganggu kebahagiaan orang lain. Bukti memperlihatkan bahwa bangsa modern yang beradab adalah bangsa yang menghargai hak orang lain. Negara-negara besar seperti AS dan Inggris, tidak tercipta dari pemaksaan kehendak terhadap warganya, tetapi melalui consensus yang tercipta secara damai dan demokratis, tanpa adanya pemaksaan dan pelanggaran hak asasi manusia. Tetapi harus diingat bahwa kesejahteraan ekonomi “hanyalah produk sampingan dari liberalisme” (Williams, 2004). Produk utamanya adalah kemerdekaan, apakah ada hal yang lebih bermoral dari ini?

Kembali ke pernyataan di atas : “capitalism stole my virginity”. Apakah memang kebebasan yang mengakibatkan keperawanannya terenggut? Atau jika pernyataanya: apakah kebebasan yang mengakibatkan imoralitas? Tentu saja tidak! Kebebasan membutuhkan tanggungjawab pribadi. Bukan kebebasan yang menciptakan imoralitas tersebut, tetapi diri anda sendiri. Ada pilihan lain untuk mencegahnya, yaitu dengan menghilangkan kebebasan (dengan pemaksaan, koersi, kekerasan dll), sehingga tidak terwujudnya imoralitas. Tetapi bukankah dengan demikian kita menciptakan lebih banyak imoralitas?

Mitos : Liberalisme adalah paham yang tidak berkeadilan, paham yang menciptakan ketidak adilan. Tuduhan yang sering di alamatkan katanya liberalisme kapitalisme menciptakan perbedaan kelas, ketimpangan ekonomi, yang kaya semakin kaya dan miskin semakin miskin sehingga tercipta kesenjangan pendapatan.

Fakta : Diantara banyaknya tuduhan, ini yang paling sering didengungkan. Sebagaimana menjawab mitos diatas, dengan mewujudkan pengertian bersama tentang apa itu keadilan, kita bisa melangkah dengan pengertian yang lebih baik. Bagaimana sebenarnya keadilan itu? Ketika saya masih kecil dulu, duduk berdampingan dengan kakak saya yang terpaut 6 tahun, duduk menanti sarapan yang akan diberikan, ibu saya memberikan porsi yang lebih banyak kepada kakak saya karena tahu kemampuan makan kakak saya dan saya berbeda. Apakah ini bisa disebut keadilan? Tentu saja karena masing-masing menurut kemampuannya. Ketika saya sekarang mengajar di sebuah kelas. Bagi murid yang malas, saya berikan nilai lebih rendah sedangkan yang rajin saya berikan nilai yang lebih tinggi. Apakah ini keadilan? Sekali lagi, ya, karena saya memberi sesuai dengan yang mereka usahakan.

Dalam pikiran banyak orang yang anti liberalisme, mereka punya kesamaan visi atas ketidak adilan yang tercipta dalam system kebebasan. Tetapi sayangnya, hayalan ketidak adilan ini mereka dasarkan hanya atas hasil akhir dan bukan prosesnya (William, 2004). Prof. Hayek, berusaha menjawab kritik ini dengan meyakinkan bahwa jangan hanya melihat ketidak adilan dari hasil akhir, tetapi yang paling utama, keadilan dalam proses. Contohnya, dalam sebuah kelas, terdapat ketimpangan hasil akhir. Ada yang dapat F dan ada yang dapat A.Tetapi ini adalah keadilan, seandainya memang prosesnya adil. Ketika murid berusaha sesuai kemampuannya dan mendapat nilai sesuai dengan kemampuannya, itulah keadilan. Akan sangat tidak adil seandainya semuanya mendapat A. Bukan saja tidak adil, tetapi juga akan menghasilkan proses belajar yang tidak kompetitif dan produktif, karena tidak ada murid yang mau berusaha sejak mereka tahu bahwa sekeras apapun mereka berusaha, mereka tetap akan dapat A. Bahkan menurut Prof. Friedman dalam “Free to Choose”, bukan saja tidak adil dan kontra produktih, malah tidak menyenangkan. Tidak ada orang yang akan menikmati hidup seandainya “keadilan hanya berdasar hasil akhir” ini diterapkan. Kita sendiri sudah lahir “tidak adil”.

Ada yang dilahirkan sudah kaya, tampan dan cantik, ada yang pintar nyanyi, ada yang pintar memimpin, berbakat jadi dokter, jadi pilot, ada yang dilahirkan cacat, ada yang buta, ada tidak terlalu pintar, ada yang brilliant. Memang “tidak adil”, tetapi kalau anda lihat justru itulah keadilan yang Maha Kuasa. Kalau semuanya dilahirkan pintar bermain music, siapa yang akan menjadi penikmat music. Kalau semua dilahirkan berbakat memimpin, siapa yang akan menjadi pengikut? Yang membuat saya heran, kenapa para kaum egaliter (ingin masyarakat sederajat), begitu getol agar kita menjadi sejajar semua secara ekonomi, sedangkan kita sendiri lahir secara “tidak merata”. Milton Friedman mengejek anggapan ini dengan begitu brilliant. Menurutnya, kalau memang anda ingin dunia adil, maka sederhana, semua yang terlahir pintar bermusik, jangan dilatih bermusik. Sedangkan yang tidak bisa bermusik harus diajari bermain music, sehingga kemampuan semua manusia sejajar. Tetapi bukankah ini hal yang sangat bodoh? Bukan hanya merugikan sang empunya bakat, tetapi merugikan seluruh masyarakat yang tidak bisa menikmati keindahan music yang dihasilkan empunya bakat.

Dalam liberalisme, anda mendapatkan sesuai dengan apa yang anda usahakan. Kerja keras anda menentukan hasil akhir yang anda dapat. Walter Williams mengilustrasikan dengan luar biasa gamblangnya system penghargaan (reward) ini. Menurutnya, dalam masyarakat kapitalis, setiap kerja anda dihargai dengan sertifikat, dan sertifikat itu kalau di Amerika kita sebut Dollar, di tempat lain disebut Euro, Mark, Pound sterling, dan kalau di Indonesia kita sebut itu Rupiah. Sertifikat ini kita berikan atas ucapan terima kasih atas layanan yang diberikan atas kita terhadap sopir taxi, guru, penata rambut, penjual beras, dan banyak orang lain. Lebih keras anda bekerja, lebih banyak sertifikat yang anda terima. Ketika anda tidak bekerja, jangan harap anda menerima sertifikat penghargaan ini. Sehingga jangan heran dalam system kapitalisme/liberalisme, tercipta ketidak sejajaran, karena ada yang bekerja malas, ada yang rajin, sehingga mereka menerima sesuai dengan apa yang layak mereka dapatkan. Tetapi ketidak sejajaran hasil akhir ini adalah hasil sebuah proses yang sangat-sangat adil. Bukankah ini system yang sangat, sangat berkeadilan. Bisakah anda temukan system yang lebih adil dari ini?

Mitos : Ekonomi Liberalisme didasarkan atas pementingan diri sendiri dan keserakahan

Fakta : Coba perhatikanpara atlit yang sedang bertanding, contohlah para pelari cepat. Apa yang anda lihat? Tentu saja bukan sekedar lintasan lari dan para atlit. Tetapi juga determinasi yang terpancar dari aura dan usaha mereka yang membuat mereka ingin berlari lebih cepat dari yang lain. Tentu saja tidak ada yang menyuruh mereka untuk lari lebih cepat. Tidak ada perintah dari atasan, tidak ada kelinci yang harus dikejar (seperti lintasan lari anjing greyhound) dan tidak ada yang menodong mereka dari belakang untuk lari lebih cepat. Lalu apa yang membuat mereka lari lebih cepat? Paling tidak ada dua alasan utama yang membuat mereka lari. Pertama, hadiah besar yang menanti didepan. Hmmmm, hadiah besar yang menggiurkan. Alasan kedua, adalah, keinginan alamiah manusia untuk menjadi yang terbaik. Tidak semua orang bisa menjadi terbaik, karena jika semua menjadi terbaik, maka terbaik menjadi biasa saja. “Terbaik” adalah hal yang eksklusif. Tidak semua bisa menjadi terbaik, hanya orang khusus bisa menjadi terbaik. Dan untuk menjadi terbaik seseorang harus mendahulukan dirinya. Bukankah kedua hal ini yang meEconomic and Virtue

Mitos : Liberalisme menimbulkan kemelaratan

Fakta : Diantara semua tuduhan, ini adalah tuduhan yang paling tidak berdasar. Tidak ada satu bukti pun yang bisa mendukung mitos ini. Tetapi buktu untuk kebalikannya, bahwa Ekonomi liberal menciptakan kesejahteraan, bisa anda temukan dimana-mana. Anda tidak perlu sebuah penelitian ilmiah secara comprehensive. Cukup nyalakan TV anda dan lihat secara jelas. Tetapi jika anda membutuhkan fakta ilmiah, penelitian James Gwartney, Robert A. Lawson dan Walter E. Block (1998) membuktikan hal ini ini.
Gwartney Et Al. merancang index untuk mengukur tingkat kebebasan ekonomi dari 100 negara. Dengan membandingkan hasil index tersebut dengan GDP Negara bersangkutan, dan menemukan bahwa Negara-negara dengan tingkat kebebasan ekonomi yang tinggi (seperti Amerika Serikat, Selandia Baru dan Hong Kong),bertumbuh lebih cepat dari Negara-negara dengan kebebasan ekonomi menengah (seperti Inggris, Jerman dan Negara-negara Skandinavia), dan bertumbuh jauh lebih cepat dari Negara-negara dengan tingkat kebebasan ekonomi rendah (seperti Venezuela dan Iran). (Informasi penelitian ini bisa anda dapatkan dari buku karya Mark Skousen berjudul “The Making of Modern Economic”, yang sudah di terjemahkan kedalam bahasa Indonesia “Sang Maestro: Sejarah Ekonomi Modern”, yang bisa dibeli di gramedia, atau dipinjam ke saya, dengan syarat ketentuan berlaku J. Sehingga jika anda lihat apa sebenarnya resep utama dibalik kemakmuran suatu bangsa? Jawabannya terletak pada sebuah tulisan berusia lebih dari 200 tahun lalu dengan judul yang mempertanyakan pertanyaan yang sama “Penyelidikan Terhadap Sifat dan Penyebab Kemakmuran Bangsa” karya Adam Smith : “Ketika seseorang bekerja sekeras mungkin, dengan menggunakan modalnya untuk mendukung industry didalam negeri dan menuntun industry ini untuk menghasilkan mungkin nilai yang tertinggi … Dia pada dasarnya tidak tentu tidak bermaksud memajukan kepentingan publik, dan tidak tahu bagaimana caranya memajukan kepentingan umum … dia bertujuan hanya untuk mengamankan dirinya sendiri, dan dengan mengarahkan industrinya untuk menghasilkan nilai yang tertinggi, tujuannya hanya keuntungan pribadinya; dan dia dalam kasus ini, sebagaimana banyak kasus lainnya dituntun oleh tangan tak Nampak untuk mencapai tujuan akhir yang bukan merupakan tujuannya. Dengan mengejar kepentingan pribadinya, dia sering memajukan kepentingan masyarakat lebih effektif dari pada ketika dia dengan sengaja bertujuan memajukannya. Aku tak pernah melihat begitu banyak kebaikan yang dilakukan (bagi masyarakat - penerjemah) melebihi kebaikan yang merupakan efek perdangan.”

Faktanya, terimakasih terhadap kebebasan pasar, kita sekarang punya teknologi yang memudahkan hidup kita. Kita jauh melebihi leluhur kita yang banyak hanya mampu memenuhi kebutuhan tidak lebih dari satu hari, dan harus berusaha lebih keras untuk memenuhi kebutuhan hari berikutnya. Sekarang, kebanyakan dari kita punya lebih banyak kesempatan untuk memajukan kebudayaan. Lebih banyak waktu untuk membaca buku, aktif dalam diskusi public, dalam ilmu pengetahuan, dan berekreasi, mempercantik diri, main game, dan mengejar impian masing-masing.

Mitos : Dalam ekonomi liberal, yang kaya lebih kaya dan miskin lebih miskin. Yang punya modal berkuasa.

Fakta : Fakta ini saya kutip dari buku “The Making of Modern Economic” : “Pekerjaan stastistik modern oleh Stanley Lebergott dan Michael Cox mengkonfirmasi pemikiran pandangan Smithian ini (bahwa yang miskin juga bertambah sejahtera – Penj.) dan menyangkal kiritik yang dipercaya banyak orang bahwa dibawah system pasar bebas yang kaya menjadi lebih kaya dan miskin lebih miskin. Yang miskin juga menjadi kaya, menurut studi terbaru oleh Lebergott (1976) dan Cox (1999). Stanley Lebergott, professor emeritus di Wesleyan University, mepelajari pasar consumer individual dari makanan, pakaian, perumahan, bahan bakar, perlengkapan rumah tangga, transportasi, kesehatan, rekreasi dan agama. Sebagaimana dia mengembakan statistik… yang menunjukan pertumbuhan standar hidup semenjak tahun 1900 sampai 1970.
Sebagaimana table Lebergott tersebut menunjukan, standar hidup meningkat secara substansial untuk semua kelas, termasuk yang terbawah, pada abad keduapuluh. Dia mengkonfirmasikan pernyataan yang pernah dibuat oleh Andrew Carnagie, “Kapitalisme merubah kemewahan menjadi kebutuhan.” … Penelitian lain yang dilakukan Michael Cox, ekonom dari Bank Sentral Dallas, dan Richard Alm, penulis laporan bisnis dari Dallas Morning News, menyimpulkan bahwa harga real dari perumahan, makanan, bensin, listrik, layanan telepon, perlengkapan rumah, pakaian dan kebutuhan sehari-hari lainnya, turun secara signifikan selama abad keduapuluh. Peneliti juga menunjukan bahwa yang miskin di Amerika juga menunjukan perkembangan gradual dari kehidupan ekonomi mereka. Lebih banyak orang memiliki rumah, mobil, dan produk consumer lainnya lebih dari zaman sebelumnya, dan televisi bahkan ditemukan dirumah termiskin.”

Banyak dari pengkritik pasar bebas menganggap bahwa system pasar bebas adalah system hukum rimba dimana yang punya modal yang paling kuat. Padahal dalam kenyataannya system pasar bebas hanya akan berhasil ketika ada peraturan yang mencegah seseorang melukai yang lain. System pasar bebas atau liberalisme, atau kapitalisme, apapun anda menyebutnya adalah system yang paling demokratis dan damai. Walaupun seseorang, contohnya Bill Gates, menjadi kaya, bukankah itu karena orang lain menghargai kerja kerasnya dan mau membayarnya untuk itu? Dia tidak pernah memalaki orang untuk tersebut. Semuanya dihasilkan dari kerja keras, inovasi dan kreativitas. Tetapi apakah memang modal satu-satunya penentu keberhasilan dalam system pasar bebas? Tentu saja ini hanya sekedar mitos belaka. Kalau seandainya modal satu-satunya variable penentu keberhasilan, kita tidak akan pernah melihat Bill Gates, Steve Jobs, Paul Allen, Walt Disney, Ray Kroc, McDonalds Bersaudara,Thomas Alva Edison, Akio Morita, Michael Dell, dan banyak wirausahawan lainnya yang berhasil bukan karena kepemilikan modal, tetapi karena kerja keras, penghematan, kemauan, determinasi. Bukankah ini nilai-nilai yang mulia yang muncul dari pasar bebas, yang saya heran kenapa Cuma keserakahan dan keserakahan saja yang digembar-gemborkan para penentang kebebasan. Bukan hanya para usahawan saja yang diuntungkan oleh pasar bebas. Orang-orang seperti Michael Jordan, Arsene Wenger, Pablo Picasso, Michael Jackson, The Beatles, Rowan Atkinson, Charlie Chaplin, Pele, Albert Einstein, Billy Joel, dan jutaan lainnya yang membuat hidup kita lebih nyaman dan mengembangkan kebudayaan kita, adalah hasil dari pemikiran yang pro kebebasan. Pemikiran anti kebebasan hanya menghasilkan para dictator dan penguasa seperti para Paus abad pertengahan, Jenghis Khan, Lenin, Stalin, Hitler, dll.

Mitos – mitos ini menuntun kita kepada mitos yang paling besar : Indonesia kurang bisa maju karena kekurangan SDM.

Fakta : Ada dua ratus juta penduduk Indonesia. Ada dua ratus juta potensi, ada begitu banyak kreativitas, kemampuan, keahlian, dan tentu saja mimpi dan impian. Seandainya kita bisa lepaskan dua ratus juta manusia ini dengan bebas mengejar kebebasannya, maka tentu saja kesejahteraan Indonesia pasti akan tercapai.*(Juan Mahaganti)

EGALITER ATAU KESETARAAN

Konsep equality (kesetaraan) yang terkandung dalam pemahaman ordo liberal lebih bermakna sebagai kesetaraan dalam kesempatan dan didepan hukum. Kesetaraan muncul dari penerapan kebebasan ekonomi. Kesamaan dalam pedapatan dan kepemilikan tidak dikenal oleh ekonomi pasar sosial.
 Semua manusia “setara” di mata hukum. “Kesetaraan” jender perlu diarusutamakan. Setiap warga negara memiliki hak yang ”setara” untuk mendapat perlakuan yang adil. ”Kesetaraan” hak bagi perempuan harus ditegakkan. Setiap warga negara berhak atas ”kesetaraan” kesempatan kerja.”
 
Apa sih Kesetaraan Itu?
 Dua benda dikatakan memiliki kesetaraan jika keduanya identik dalam satu hal atau lebih. Kalau A dan B tingginya 1,5 meter, maka keduanya setara dalam tinggi badan. Jika C dan D bergaji tiga juta rupiah per bulan, keduanya memiliki kesamaan pendapatan. Jika E dan F memiliki kesempatan yang sama dalam kuis TV, maka keduanya berkesempatan sama untuk menang. Yang pasti, tidak ada dua obyek fisik yang benar-benar sama dalam semua hal. Bahkan dua benda buatan manusia yang kita anggap identik tetap berbeda susunan dan posisi atomnya.
Apalagi manusia. Dalam artikelnya Wolftein membahas tiga macam kesamaan:

1) Kesetaraan secara politik—artinya hak terhadap kehidupan, kebebasan dan kepemilikan, tanpa gangguan dari pihak eksternal terhadap hal-hal tersebut;
 2) Kesetaraan secara ekonomi, yang esensinya adalah kesamaan pendapatan atau kekayaan;
 3) Kesetaraan secara sosial—yang dapat berupa (a) kesamaan status sosial, (b) kesetaraan dalam kesempatan, atau (c) kesamaan perlakuan, atau (d) kesamaan pencapaian.

 Kesetaraan, Kebebasan dan Keadilan
Dengan cepat dapat diperlihatkan bahwa persamaan secara ekonomi dan sosial hanya dapat diraih dengan mengorbankan kesetaraan politis, sebab manusia berbeda dalam hal kemampuan, intelejensia, dan atribut-atribut lainnya. Dalam alam kebebasan, pencapaian, status, penghasilan dan kekayaan orang akan berbeda-beda. Seorang penyanyi berbakat akan mampu menarik penghasilan yang lebih besar dari seorang penggali kubur. Dan lain sebagainya.
 Hanya ada satu cara agar semua orang dapat menjadi setara dalam hal ekonomi atau sosial, yaitu melalui: redistribusi secara paksa terhadap kekayaan dan pelarangan terhadap perbedaan sosial. Menurut Nozick dari Harvard Philosophy Department, dalam Anarchy, State and Utopia, kesetaraan ekonomi dan sosial membutuhkan intervensi pemerintah yang berkelanjutan tanpa henti terhadap transaksi-transaksi pribadi. Bahkan pun jika penghasilan disamaratakan, hal ini akan segera tidak setara jika orang masih memiliki kebebasan dalam membelanjakan uangnya. Kesetaraan ekonomi dengan demikian hanya dapat dipertahankan dalam sistem kontrol totalitarian terhadap kehidupan orang, atau pelucutan kebebasan masyarakat dalam mengambil pilihan dan menggantikannya dengan keputusan sentralistik penguasa.
 Manusia bebas tidak setara secara ekonomi; manusia yang setara secara ekonomi, bukanlah manusia bebas. Kesetaraan ekonomi dan sosial hanya dapat dilakukan melalui interferensi koersif (yang bersifat memaksa)—di sini disebut sebagai egalitarianisme koersif.

Persamaan sebagai Ideal Etis
 Adalah kenyataan bahwa orang berbeda satu dari lainnya. Pertanyaannya: haruskah orang berbeda? Ini pertanyaan etis; dan egalitarianisme adalah doktrin etis. Kesulitan utama kita dalam berurusan dengan hal-hal etis juga disebabkan oleh pandangan yang mengatakan bahwa etika adalah soal opini semata, dan bahwa satu sistem moral sama baiknya dengan sistem moral lainnya.
 Tetapi setiap kode/doktrin etis dan dapat dinilai setidaknya dengan tiga butir kriteria:

(1) Apakah hal tersebut logis—apakah doktrin tersebut memiliki konsep dasar yang bermakna dan argumen-argumen yang diajukan sahih;

(2) Apakah hal tersebut realistis—apakah doktrin tersebut memungkinkan manusia hidup bersama, ataukah justru bertentangan dengan kodratnya sendiri sebagai manusia, dan;

(3) Apakah hal tersebut diinginkan—apakah konsekuensi-konsekuensinya sesuai dengan klaim-klaim yang diajukan atau justru bertentangan sama sekali; dan jika doktrin tersebut diterima, apakah hal tersebut membawa kebahagiaan manusia, ataukah justru kekecewaan dan keputusasaan?
 
Kriteria tersebut dapat dipakai untuk menguji doktrin egalitarianisme koersif.

  1. Apakah egalitarianisme-koersif logis? Egalitarianisme menyatakan bahwa semua orang harus setara, tetapi tidak banyak pihak egaliter yang mendefinisikan apa persamaan tersebut. Persamaan secara penuh adalah hal mustahil, sehingga konsep ini dapat seketika kita tolak. Konsep-konsep kesetaraan dalam bidang ekonomi dan sosial perlu didefinisikan secara pasti, karena maknanya berbeda-beda. Hingga definisi diberikan dengan jelas, doktrin egalitarianisme tidak dapat dianggap logis.
  2. Apakah egalitarianisme-koersif realistis? Orang berbeda-beda dan memiliki sistem nilai yang berbeda pula. Karena hal tersebut adalah bagian dari kodrat dan kondisi manusia, maka tuntutan agar semua ini ditinggalkan adalah sesuatu yang bertentangan dengan kodrat manusiawi, dan tidak realistis.
  3. Apakah egalitarianisme-koersif diinginkan? Egalitarianisme koersif mengimplikasikan dunia tanpa wajah di mana orang-orangnya dapat saling dipertukarkan. Impian terhadap dunia semacam ini lebih menyerupai mimpi buruk daripada sebuah cita-cita, dan memang demikian adanya.

Negara yang pernah mempraktikkan kesetaraan ekonomi dan sosial adalah Kamboja di bawah kepemimpinan Pol Pot. Di bawah rejimnya, seluruh populasi dipaksa meninggalkan kota dan semua orang dari berbagai usia dan status sosial dipaksa tinggal di desa dan bekerja sebagai buruh tani di lahan-lahan pertanian kolektif. Di Kamboja Pol Pot, semua orang harus berpikir, bekerja, dan berkeyakinan sama; setiap pemberontak akan dibunuh seketika di tempat. Saat ini di Kamboja utara dapat ditemui model perkampungan a la Pol Pot, di mana rumah-rumah penduduk tertata rapih, bersih dan berjajar identik. Di dekat perkampungan tersebut adalah kuburan massal di mana ratusan kerangka manusia dikuburkan—sisa-sisa keberadaan sekelompok manusia yang mencoba mempertahankan individualitasnya. Perkampungan kuburan massal tersebut adalah simbol yang pas bagi egalitarianisme koersif

Sementara egalitarianisme koersif mengenakan topeng sebagai doktrin etis, kenyataannya justru sebaliknya. Etika mempra-asumsikan bahwa manusia mampu membedakan kebajikan dari kebathilan. Tetapi doktrin egalitarianisme koersif menuntut agar kita memperlakukan manusia secara sama, tanpa memerdulikan perbedaan-perbedaanya, termasuk dalam hal kebajikan. Menuntut agar orang yang bajik dan yang buruk diperlakukan setara, adalah melakukan hal etis yang secara prinsip mustahil dipenuhi.

Ringkasnya, egalitarianisme koersif tidak logis karena dia mendefinisikan apa isi dan definisi “kesetaraan” tersebut.; dia tidak realistis karena mengharuskan kita menolak nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri; dan tidak diinginkan karena pada hakikatnya bertujuan menciptakan masyarakat manusia seperti koloni serangga. Egalitarianisme koersif gagal sebagai sebuah doktrin; namun secara emosional dia masih tetap menawan hati banyak orang. *(M.Husni Thamrin)

FILSAFAT KETUHANAN

MENYIBAK TABIR TUHAN
"Tuhan memberikan teka-teki kepada orang bijak, sedangkan kepada orang bodoh ajaran singkat dan dangkall," demikian kata pujangga Yunani Kuno, Sophokles (496?-406s.M). Namun sungguhkah Tuhan membeda-bedakan kemampuan intelektual manusia untuk menyatakan kehendakNya? atau kebalikannya benar: Kita manusialah yang terlalu malas dan takut memakai kekuatan akal budi kita untuk menalar Tuhan? Iman versus rasio? Keilahian menafikan keinsanian, termasuk gairah erotik, harta dan tahta? Khalik Pencipta lawan makhluk, ya Alam ciptaan?
Bergabunglah bersama kami membahas pertanyaan-pertanyaan ini secara mendalam,- sebagai strategi intelektual melawan pandangan kaum fundamentalis agama.
Awas!! Kursus ini hanya bisa diikuti oleh mereka yang berani berpikir terbuka tentang Tuhan

JADUAL PERTEMUAN
Koordinator : Dr. P. Simon P. Lili Tjahjadi
NO TANGGAL POKOK BAHASAN DOSEN
1 7 Februari '11 Pengantar: Filsafat Ketuhanan sebagai Teologi Filosofis Dr. Simon P. Lili Tjahjadi
2 14 Februari '11 Homo Religiosus Prof. Dr. M. Sastrapratedja
3 21 Februari '11 Iman dan Rasio Dr. A. Sunarko
4 28 Februari '11 Intersubjektivitas: Ibu/Bapak sebagai Simbol Allah Prof. Dr. Alex Lanur


MENALAR TUHAN SEPANJANG ZAMAN

5 7 Maret '11 Zaman Yunani: Parmenides, Plato, Aristoteles, Plotinos Dr. A. Setyo Wibowo
6 14 Maret '11 Zaman Modern: Allah di dalam batas-batas Rasio Melulu? Prof. Dr. J. Sudarminta
7 21 Maret '11 Alam Pikiran Timur tentang Allah Dr. J.B. Hari Kustanto
8 28 Maret '11 Postmodernisme dan Agama Dr. A. Andang Listya B.


BELAJAR DARI ATEISME
9 4 April '11 Ateisme atas nama Penderitaan Manusia Dr. A. Sunarko
10 11 april '11 Ateisme atas nama Emansipasi Politik: Feuerbach, Marxis, Leninisme, Komunisme Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno
11 18 April '11 Ateisme Nietzsche: "Tuhan sudah mati ............ kita telah membunuhNya!" Dr. A. Setyo Wibowo

25 April '11 LIBUR PASKAH
12 2 Mei '11 Ateisme atas nama Biologi, Fisika dan Kosmologi modern Dr. Karlina Supelli


PERLUASAN PANGGUNG TUHAN
13 9 Mei '11 Allah dan Erotik Dr. T.A. Deshi Ramadhani
14 16 Mei '11 Allah dan Ekologi Prof. Dr. Martin Harun
15 23 Mei '11 Tuhan: Altar, Pasar dan Tahta Dr. F. Budi Hardiman
16

17
30 Mei '11

6 Juni '11
Rasionalitas Sains: di Antara Tuhan dan Matematika?
Ujian
Dr. Karlina Supelli

Dr. Simon P. Lili Tjahjadi

Informasi Lebih Lanjut Hubungi Sukitman Sudjatmiko di Alhurr_lawan@yahoo.com atau Sekretariat Elkipp'Sukabumi

Kamis, 30 Desember 2010

MERRY CHRISMAS 2010 & HAPPY NEW YEAR 2011

SEGENAP PIMPINAN & ANGGOTA LINGKAR KAJIAN PUTRA - PUTRI SUKABUMI
MENGUCAPKAN SELAMAT HARI NATAL & TAHUN BARU 2011

SEMOGA DI TAHUN 2011 KITA MENCAPAI ASA DANMEWUJUDKAN MIMPI TAHUN 2010

Selasa, 21 Desember 2010

UNDANGA PLENO & LANJUTAN RAPAT KERJA BIDANG TAHUN 2011

Diberitahukan kepada seluruh Anggota dan Pengurus Lingkar Kajian Putra-Putri Sukabumi, untuk menghadiri lanjutan dan Teknis agenda kegiatan pelaksanaan program-program kerja organisasi Tahun 2011 & pemetaan Anggaran Tahun 2011,maka diharapkan kehadirannya pada :

Hari/Tanggal               : Minggu/26 Desember 2010
Waktu                        : Jam 08.00 s/d 15.00 WIB
Tempat                      : Sekretariat Lingkar Kajian Putra-Putri Sukabumi

demikian Surat pemberitahuan ini kami buat,semoga semua anggota & Pengurus elkipp's dapat menghadirinya. atas apresiasi & supporting agenda organisasi. kami ucapkan terima kasih

Mengetahui                                                                                           Menyetujui
Dewan Pengurus                                                                                   Dewan Pembina
Lingkar Kajian Putra-Putri Sukabumi


Samsul Hidayat                                                                                     Sukitman Sudjatmiko
Direktur Eksekutif

Kuliah Umum Etika & Dan Filsafat Moral

Dalam Mengembangkan Etika dan Pembangunan karakter Bangsa sehingga diperlukan pengasahan dan perubahan paradigma serta tendensi moral dari serpihan-serpihan fragmentasi pemahaman agama yang dogmatis dan sempit ,Lingkar Kajian Putra-Putri Sukabumi.Mengundang anda untuk ikut berpartisipasi dan sharing Diskusi dalam agenda sbb;

DISKUSI MINGGUAN FILSAFAT MORAL & ETIKA DASAR

waktu                : Setiap Sabtu Sore
Jam                   ; Jam 16.00 s/d 18.00
Referensi           : Buku Etika Dasar Karangan Prof.Dr.Franz Magnis Suseno
Fasilitator          ; Sukitman Sudjatmiko (Sekjend VINUS & Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Drijarkara Jakarta)

untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi Sekretariat elkipp'sukabumi dengan mengkonfirmasinya ke sdr. Izudin Hambali (Manajer umum) Tedi (Wakil Manajer Umum) dan Iwonk (Koord.Condev)